Ulasan Artikel:
Model 3F–RVLM mengintegrasikan dimensi emosional, kognitif, dan konatif dalam suatu alur pembelajaran yang menjadikan refleksi bukan sekadar aktivitas berpikir, melainkan proses hidup yang menumbuhkan nilai secara bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik. Model 3F–RVLM dirancang sebagai kerangka pembelajaran reflektif yang mengarahkan peserta didik untuk bergerak dari merasakan, menuju memaknai, dan akhirnya mengaktualisasikan nilai dalam tindakan nyata. Model ini menekankan tiga tahap utama refleksi – Value Feel, Value Find, dan Value Flow – yang membentuk suatu spiral pengalaman belajar bernilai, di mana kesadaran moral tumbuh secara alami dari pengalaman menuju praksis.
Model 3F–RVLM (Feel–Find–Flow) dikembangkan sebagai inovasi konseptual dalam pedagogi reflektif-nilai (value-reflective pedagogy), yang berupaya menghidupkan kembali esensi pembelajaran moral melalui pengalaman personal dan sosial.

Value Feel (Experiencing: Mengalami dan Merasakan Nilai)
Value Find (Finding Meaning: Menemukan dan Membentuk Makna)
Value Flow (Enacting Action: Mengalirkan Nilai dalam Tindakan)
Dalam perspektif pendidikan Pancasila, model 3F–RVLM menempatkan refleksi nilai sebagai inti dari pembelajaran karakter bangsa, sebuah upaya pedagogis yang menghubungkan kesadaran moral, penalaran kritis, dan tindakan bernilai dalam satu kesatuan proses pembentukan kepribadian.
Pada tahap Feel (Mengalami), pembelajaran diawali dengan menghadirkan pengalaman emosional dan kontekstual yang menggugah kesadaran nilai. Guru menciptakan situasi belajar yang kaya akan makna melalui penyajian realitas sosial, cerita, video, permainan nilai, simulasi, atau kasus kehidupan nyata. Tujuannya adalah membangkitkan empati, rasa ingin tahu, dan kepekaan moral peserta didik terhadap nilai-nilai yang akan dieksplorasi. Tahap ini menjadi pintu masuk bagi kesadaran afektif, tempat di mana emosi dan pengalaman menjadi sumber awal pembentukan nilai.
Tahap Find (Menemukan dan Membentuk Makna) berperan untuk menggali, menafsirkan, dan menginternalisasi makna moral dari pengalaman yang telah dialami. Pada fase ini, peserta didik terlibat dalam proses refleksi diri, dialog nilai, dan diskusi kritis untuk menimbang berbagai sudut pandang moral. Melalui kegiatan seperti journaling, pembuatan peta nilai, atau karya ekspresif, siswa tidak hanya memahami makna nilai secara kognitif, tetapi juga membentuk kesadaran nilai yang bersifat personal dan sosial. Tahap Find juga dapat dimaknai sebagai proses internalisasi nilai yang menjembatani antara penemuan makna belajar dan tindakan nyata. Dengan demikian, Find mencakup dua lapisan proses reflektif: menemukan makna (meaning making) dan membentuk kesadaran nilai (value formation).
Tahap terakhir, Flow (Mengalirkan Aksi), merupakan puncak dari proses refleksi, ketika nilai yang telah dihayati dialirkan ke dalam tindakan nyata. Peserta didik menerjemahkan hasil refleksi menjadi aksi sosial yang bermakna—misalnya menolong teman, menjaga kebersihan kelas, melakukan kegiatan gotong royong, atau proyek aksi sosial sederhana. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya melakukan tindakan moral, tetapi juga mengevaluasi dan merefleksikan kembali makna dari tindakan tersebut, sehingga terbentuk loop reflektif antara kesadaran dan aksi.
Secara keseluruhan, Model 3F–RVLM mengajarkan bahwa pendidikan nilai bukan sekadar proses kognitif, melainkan perjalanan reflektif yang menghubungkan rasa, makna, dan aksi. Melalui alur Feel → Find → Flow, peserta didik dibimbing untuk mengalami, memahami, menginternalisasi, dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, model ini menumbuhkan karakter yang sadar, reflektif, dan berdaya moral, suatu bentuk pembelajaran reflektif bernilai yang berpijak pada paradigma pedagogi among reflektif yakni pendidikan yang membangkitkan kesadaran nilai melalui pengalaman sosial dan refleksi diri menuju kebajikan yang relevan dengan konteks dunia keseharian siswa.
Write Review